Dibalik dampak positifnya, penggunaan internet juga memberikan dampak
negatif, khususnya bagi anak-anak. Ada beberapa hal yang perlu
diwaspadai orang tua seputar penggunaan internet, khususnya bagi
anak-anak.
Penggunaan teknologi internet sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Selain karena kecepatannya dalam penyebaran informasi, kemudahan-nya pun sangat menguntungkan para penikmat perkembangan informasi. Seseorang tidak lagi harus membeli koran yang jaraknya relatif jauh dari rumah, namun cukup duduk di rumah sambil menikmati kopi, informasi terbaru pun sudah bisa didapat dengan mudah dan cepat.
1. Bahaya Konten dewasa.
Banyak sekali konten dewasa yang tersebar luas di internet. Bahkan konten anak-anak pun terkadang memunculkan iklan yang dewasa, dengan gambar icon wanita dengan pakaian yang tidak sopan. Selain itu, adegan-adegan kekerasan juga sering muncul di facebook. Hal ini akan membuat anak berpikir bahwa menyakiti orang lain adalah hal yang biasa karena memang sudah sering terjadi. Sehingga saat mereka menyakiti teman lainnya, mereka berpikir bahwa itu adalah hal yang biasa. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu selalu mendampingi buah hatinya. Berusahalah untuk selalu berada tidak jauh dari anak, saat anak menggunakan internet, sehingga saat anak-anak mengakses konten yang tidak ramah anak, orang tua bisa cepat mengambil tindakan.
2. Dampak psikologi
Karena terbiasa menyendiri atau sibuk dengan dunia sendiri, anak-anak yang terlalu lama menggunakan media internet menjadi kurang bisa terbuka, khususnya di saat mereka menghadapi suatu masalah. Saat browsing dengan media internet, mereka merasa semua masalahnya menjadi hilang, padahal itu hanya memberikan efek sementara. Kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah kurang terlatih dengan baik. Mereka juga bisa menjadi yang tertutup, sehingga saat terjadi masalah di dalam hidupnya mereka hanya memendam sendiri tanpa mau bercerita kepada orang tua dan sahabatnya. Hal ini bisa memicu stres dan depresi. Anak-anak juga butuh bergerak. Bergerak adalah salah satu naluri anak-anak untuk belajar banyak hal dengan cara bereksplorasi. Karena mereka di rumah terbiasa fokus dengan internet, anak-anak yang terlalu kecanduan dengan internet juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang cenderung terlalu aktif bergerak bila mereka tidak berada di depan komputer. Fokus mereka saat menerima pembelajaran di sekolah menjadi menurun, karena terlalu banyak bergerak.
3. Kemampuan bersosialisasi
Kemampuan bersosialisai anak yang kecanduan internet juga bisa menurun. Apalagi bila mereka terbiasa melakukan chatting via internet, saling balas komentar di facebook, dan aktivitas interaksi lainnya di internet. Mereka merasa bahwa segala permasalahan hidup bisa selesai dalam sekejap, tanpa harus bertegur sapa dan melakukan kontak mata. Padahal di dunia nyata, mereka harus terbiasa melakukan kontak mata, terbiasa berkomunikasi dalam menyelesaikan masalah, terbiasa bertegur sapa secara langsung, sehingga tidak terlihat kaku dalam kehidupan sosial. Agar anak-anak tidak menjadi manusia yang “kaku” dalam bersosialisasi orang tua perlu melakukan komunikasi lebih intens kepada anak, tidak hanya via telefon atau WA, namun juga melakukan komunikasi secara nyata. Hal ini untuk membiasakan anak agar memiliki kemampuan sosialisasi yang baik. Orang tua juga perlu mengajak anak untuk ikut hadir dalam pertemuan yang melibatkan banyak orang, misalnya pesta pernikahan, acara keluarga besar, arisan RT, dan lainnya. Hal ini sangat penting agar mereka terbiasa melakukan kontak langsung dengan banyak orang. (baca juga: Peran Keluarga Dalam Membangun Kecerdasan Sosial Anak )
4. Kesulitan Fokus
Saat anak-anak mengerjakan sesuatu dengan media komputer dan koneksi internet, mereka akan terlihat fokus. Mereka akan terlatih untuk bisa fokus saat duduk diam menghadap layar komputer. Namun bila hal ini dibiarkan terlalu lama, justru akan merusak kemampuan fokus mereka sendiri. Biasanya hal ini sering dialami mereka yang kecanduan internet atau kecanduan game online. Saat mereka berada di kelas dan menerima pelajaran, mereka menjadi susah berkoensentrasi. Kecanduanya kepada internet membuatnya mudah jenuh saat berada di kelas. Tubuh serasa ingin bergerak untuk menghilangkan kejenuhan mereka karena tidak ada komputer di depan mereka. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu membatasi waktu mereka bermain internet.
5. Terbuangnya Waktu
Banyak anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain game atau melakukan browsing dengan media internet. Banyak waktu disita untuk melakukan aktivitas ini sehingga mengurangi waktu untuk melakukan aktivitas lainnya, misalnya bermain bersama teman, berakivitas bersama keluarga, dan melakukan aktivitas penting lainnya.
Untuk mengatasi hal-hal di atas, peran orang tua sangat penting. Orang tua perlu peka akan keadaan buah hatinya. Misalnya saat anak sulit berkonsentrasi dalam belajar dan enggan bersosialisasi, orang tua harus segera mengambil sikap dan mencari akar permasalahannya. Daripada melarang penggunaan gadget, orang tua dapat berkomunikasi dan lebih memahami anak dengan menghabiskan beberapa waktu bersama di dunia permainan mereka.
Selain itu, orang tua harus tahu konten apa saja yang diakses anak-anak. Jika anak dapat mengakses internet, sebaiknya terapkan fitur penyaringan konten. Anda juga perlu mengawasi keberadaan konten dewasa pada film dan video game yang mereka mainkan. Pengetahuan akan konten-konten yang ramah anak pun perlu dimiliki oleh orang tua. Orang tua bisa searching via Google atau bertanya kepada orang lain tentang situs-situs dan aplikasi edukatif dan ramah anak, agar anak-anak bisa memperolah manfaat dari penggunaan.
Penggunaan teknologi internet sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Selain karena kecepatannya dalam penyebaran informasi, kemudahan-nya pun sangat menguntungkan para penikmat perkembangan informasi. Seseorang tidak lagi harus membeli koran yang jaraknya relatif jauh dari rumah, namun cukup duduk di rumah sambil menikmati kopi, informasi terbaru pun sudah bisa didapat dengan mudah dan cepat.
1. Bahaya Konten dewasa.
Banyak sekali konten dewasa yang tersebar luas di internet. Bahkan konten anak-anak pun terkadang memunculkan iklan yang dewasa, dengan gambar icon wanita dengan pakaian yang tidak sopan. Selain itu, adegan-adegan kekerasan juga sering muncul di facebook. Hal ini akan membuat anak berpikir bahwa menyakiti orang lain adalah hal yang biasa karena memang sudah sering terjadi. Sehingga saat mereka menyakiti teman lainnya, mereka berpikir bahwa itu adalah hal yang biasa. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu selalu mendampingi buah hatinya. Berusahalah untuk selalu berada tidak jauh dari anak, saat anak menggunakan internet, sehingga saat anak-anak mengakses konten yang tidak ramah anak, orang tua bisa cepat mengambil tindakan.
2. Dampak psikologi
Karena terbiasa menyendiri atau sibuk dengan dunia sendiri, anak-anak yang terlalu lama menggunakan media internet menjadi kurang bisa terbuka, khususnya di saat mereka menghadapi suatu masalah. Saat browsing dengan media internet, mereka merasa semua masalahnya menjadi hilang, padahal itu hanya memberikan efek sementara. Kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah kurang terlatih dengan baik. Mereka juga bisa menjadi yang tertutup, sehingga saat terjadi masalah di dalam hidupnya mereka hanya memendam sendiri tanpa mau bercerita kepada orang tua dan sahabatnya. Hal ini bisa memicu stres dan depresi. Anak-anak juga butuh bergerak. Bergerak adalah salah satu naluri anak-anak untuk belajar banyak hal dengan cara bereksplorasi. Karena mereka di rumah terbiasa fokus dengan internet, anak-anak yang terlalu kecanduan dengan internet juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang cenderung terlalu aktif bergerak bila mereka tidak berada di depan komputer. Fokus mereka saat menerima pembelajaran di sekolah menjadi menurun, karena terlalu banyak bergerak.
3. Kemampuan bersosialisasi
Kemampuan bersosialisai anak yang kecanduan internet juga bisa menurun. Apalagi bila mereka terbiasa melakukan chatting via internet, saling balas komentar di facebook, dan aktivitas interaksi lainnya di internet. Mereka merasa bahwa segala permasalahan hidup bisa selesai dalam sekejap, tanpa harus bertegur sapa dan melakukan kontak mata. Padahal di dunia nyata, mereka harus terbiasa melakukan kontak mata, terbiasa berkomunikasi dalam menyelesaikan masalah, terbiasa bertegur sapa secara langsung, sehingga tidak terlihat kaku dalam kehidupan sosial. Agar anak-anak tidak menjadi manusia yang “kaku” dalam bersosialisasi orang tua perlu melakukan komunikasi lebih intens kepada anak, tidak hanya via telefon atau WA, namun juga melakukan komunikasi secara nyata. Hal ini untuk membiasakan anak agar memiliki kemampuan sosialisasi yang baik. Orang tua juga perlu mengajak anak untuk ikut hadir dalam pertemuan yang melibatkan banyak orang, misalnya pesta pernikahan, acara keluarga besar, arisan RT, dan lainnya. Hal ini sangat penting agar mereka terbiasa melakukan kontak langsung dengan banyak orang. (baca juga: Peran Keluarga Dalam Membangun Kecerdasan Sosial Anak )
4. Kesulitan Fokus
Saat anak-anak mengerjakan sesuatu dengan media komputer dan koneksi internet, mereka akan terlihat fokus. Mereka akan terlatih untuk bisa fokus saat duduk diam menghadap layar komputer. Namun bila hal ini dibiarkan terlalu lama, justru akan merusak kemampuan fokus mereka sendiri. Biasanya hal ini sering dialami mereka yang kecanduan internet atau kecanduan game online. Saat mereka berada di kelas dan menerima pelajaran, mereka menjadi susah berkoensentrasi. Kecanduanya kepada internet membuatnya mudah jenuh saat berada di kelas. Tubuh serasa ingin bergerak untuk menghilangkan kejenuhan mereka karena tidak ada komputer di depan mereka. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu membatasi waktu mereka bermain internet.
5. Terbuangnya Waktu
Banyak anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain game atau melakukan browsing dengan media internet. Banyak waktu disita untuk melakukan aktivitas ini sehingga mengurangi waktu untuk melakukan aktivitas lainnya, misalnya bermain bersama teman, berakivitas bersama keluarga, dan melakukan aktivitas penting lainnya.
Untuk mengatasi hal-hal di atas, peran orang tua sangat penting. Orang tua perlu peka akan keadaan buah hatinya. Misalnya saat anak sulit berkonsentrasi dalam belajar dan enggan bersosialisasi, orang tua harus segera mengambil sikap dan mencari akar permasalahannya. Daripada melarang penggunaan gadget, orang tua dapat berkomunikasi dan lebih memahami anak dengan menghabiskan beberapa waktu bersama di dunia permainan mereka.
Selain itu, orang tua harus tahu konten apa saja yang diakses anak-anak. Jika anak dapat mengakses internet, sebaiknya terapkan fitur penyaringan konten. Anda juga perlu mengawasi keberadaan konten dewasa pada film dan video game yang mereka mainkan. Pengetahuan akan konten-konten yang ramah anak pun perlu dimiliki oleh orang tua. Orang tua bisa searching via Google atau bertanya kepada orang lain tentang situs-situs dan aplikasi edukatif dan ramah anak, agar anak-anak bisa memperolah manfaat dari penggunaan.
0 Response to "Hal yang perlu diwaspadai saat anak mengenal internet"
Post a Comment